Lensox – 05 Mei 2026 | Inter Milan mengamankan gelar Serie A ke-21 pada Senin dini hari WIB setelah menaklukkan Parma 2-0 di San Siro. Kemenangan ini menegaskan dominasi Nerazzurri sepanjang musim 2025/2026, dengan selisih 12 poin dari rival terdekat Napoli dan tiga pertandingan tersisa. Keberhasilan itu tidak lepas dari fondasi pertahanan yang kokoh, penyerangan yang efisien, serta taktik menekan tinggi yang diterapkan oleh pelatih Cristian Chivu.
Kemenangan Krusial atas Parma
Gawang San Siro menyaksikan dua gol penentu yang mengunci poin tiga bagi Inter. Gol pertama datang melalui serangan balik cepat yang dimotori oleh Denzel Dumfries, sementara gol penutup dicetak oleh Marcus Thuram setelah kombinasi umpan-umpan singkat di kotak penalti Parma. Kedua gol tersebut menegaskan kualitas duet penyerang Lautaro Martínez (16 gol) dan Thuram (13 gol), yang masing-masing menjadi andalan tim dalam mencetak gol penting.
Dengan hasil 2-0, Inter meningkatkan jarak ke Napoli menjadi 12 poin pada papan klasemen, menutup musim dengan 82 poin. Napoli yang berada di posisi kedua hanya mengumpulkan 70 poin, sehingga secara matematis tidak lagi mampu menyalip Inter dalam tiga laga terakhir. Kemenangan ini sekaligus menutup catatan lima kekalahan yang dialami Inter sejak awal kampanye, termasuk dua kali dikalahkan oleh rival sekota AC Milan, serta kegagalan melawan Udinese, Juventus, dan Napoli.
Statistik dan Faktor Penentu Kejayaan Inter Milan
Beberapa data penting menggambarkan bagaimana Inter Milan menorehkan musim yang hampir sempurna:
- Total gol yang dicetak: 82 (rata-rata 2,3 gol per laga)
- Gol yang kebobolan: 31 (pertahanan terkuat kedua di liga)
- Posisi akhir klasemen: 1 (21st Scudetto)
- Poin akhir: 82 (poin tertinggi sejak 2021)
- Selisih poin dengan Napoli: 12
Duet penyerang Martínez dan Thuram menjadi motor utama serangan, masing‑masing mencetak 16 dan 13 gol. Kedua pemain sempat absen karena cedera, namun rotasi yang cermat dari Chivu memastikan tidak terjadi penurunan performa. Di lini tengah, Hakan Çalhanoğlu berkontribusi sembilan gol dan menjadi pengatur ritme serangan. Sementara di belakang, Alessandro Bastoni, Manuel Akanji, dan Federico Dimarco memimpin lini belakang yang hanya kebobolan 31 gol, menandakan konsistensi defensif yang luar biasa.
Teknik pressing tinggi yang diterapkan sejak awal musim membuat lawan kesulitan mengendalikan bola di zona tengah. Inter berhasil memaksa kebobolan kesalahan di area pertahanan lawan, menghasilkan peluang gol berulang kali. Pada pertandingan melawan Como di April, Inter tertinggal dua gol namun berhasil membalikkan keadaan menjadi 4-2 berkat intensitas pressing di babak kedua. Performanya menunjukkan mentalitas juara yang kuat, terutama di saat menghadapi tekanan.
Rivalitas dengan Napoli menambah bumbu dramatis pada persaingan musim ini. Napoli mengalami krisis cedera pada pemain kunci seperti Scott McTominay dan Rasmus Hojlund, yang menurunkan kualitas skuad mereka. Sementara itu, Inter tetap konsisten meski harus mengatasi cedera pada pemain inti. Romelu Lukaku, yang hanya tampil terbatas, tidak mengganggu dinamika tim karena kehadiran Martínez dan Thuram yang sudah terbukti produktif.
Selain aspek taktik, manajemen skuad juga menjadi kunci. Cristian Chivu, mantan pemain bertahan Inter yang kini memimpin tim, berhasil menyeimbangkan rotasi pemain dengan menjaga kebugaran inti tim. Keputusan mengganti pemain di menit-menit krusial terbukti efektif, terutama ketika menghadapi jadwal padat di akhir musim.
Keberhasilan Inter Milan tidak hanya diukur dari angka, melainkan juga dari dampak emosional bagi pendukung. Perayaan di San Siro setelah gol penutup menciptakan atmosfir euforia yang mengingatkan pada masa keemasan klub pada awal 2010‑an. Foto-foto pemain merayakan scudetto menembus jaringan media internasional, menegaskan status Inter sebagai salah satu klub elit Eropa.
Dengan tiga pertandingan tersisa, Inter tetap fokus pada menjaga performa agar tidak terjadi penurunan tajam di akhir musim. Jadwal selanjutnya meliputi laga melawan Lazio, Torino, dan terakhir melawan Atalanta. Semua pertandingan diprediksi akan dijalani dengan pola pressing tinggi dan kontrol permainan yang konsisten.
Secara keseluruhan, perjalanan Inter Milan musim ini mencerminkan kombinasi antara kualitas individu, kedalaman skuad, dan taktik cerdas. Kemenangan atas Parma menandai akhir yang tepat untuk sebuah kampanye yang hampir tanpa cela, sekaligus menyiapkan fondasi kuat untuk persiapan musim depan.






