Lensox – 03 Mei 2026 | Marta Kostyuk, pemain tenis muda asal Ukraina, mengukir sejarah pada akhir pekan ini dengan mengangkat trofi Madrid Open, turnamen WTA 1000 bergengsi yang digelar di tanah Spanyol. Dalam final yang berlangsung di Caja Mágica, Kostyuk menaklukkan Mirra Andreeva dari Rusia dengan skor 6-3 7-5, sekaligus menolak melakukan jabat tangan tradisional setelah pertandingan. Momen emosional ini menggugah perhatian publik, mengingat latar belakang geopolitik yang memengaruhi hubungan antar atlet sejak dimulainya konflik di Ukraina.
Kemenangan Dramatis dan Kontroversi Jabat Tangan
Sejak memulai musim di atas tanah liat, Kostyuk tampil luar biasa, mengamankan gelar WTA 250 di Rouen sebelum melaju ke Madrid. Di babak kedua final, ia berhasil menahan serangan keras Andreeva, yang menjadi unggulan ke-9, dan mengamankan kemenangan di set kedua yang ketat 7-5. Setelah mengangkat trofi, Kostyuk langsung melangkah ke arah wasit untuk berjabat tangan, menghindari jaringan pemain lawan di net. Andreeva, yang telah menyadari keputusan Kostyuk sebelumnya, hanya berjabat tangan dengan wasit sebelum kembali ke bangku cadangan, di mana ia meneteskan air mata sambil memeluk handuk.
Gestur menolak jabat tangan ini bukan kali pertama Kostyuk melakukannya. Pada akhir tahun lalu, ia juga menolak berjabat tangan dengan Aryna Sabalenka setelah kalah di final Brisbane. Keputusan ini mencerminkan sikap pribadi Kostyuk yang menolak berinteraksi secara fisik dengan atlet dari Rusia dan Belarus sejak pecahnya perang di Ukraina, meskipun ia tetap memberikan penghargaan kepada lawan-lawan lewat pidato kemenangan.
Hadiah Finansial yang Menggiurkan di Madrid Open
Selain prestasi sportif, Madrid Open 2026 menampilkan peningkatan signifikan dalam total hadiah uang, menandai era baru dalam upaya mencapai kesetaraan gender di tenis profesional. Kedua juara, baik pada rangkaian putra maupun putri, menerima cek sebesar £872.560, setara lebih dari satu juta euro, menjadikannya hadiah tertinggi dalam sejarah turnamen WTA 1000. Peningkatan ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sekitar £853.380, menunjukkan pertumbuhan 2,2 persen. Runner-up tidak ketinggalan, dengan total sekitar £464.000, naik dari £453.850 pada 2025.
- Juara tunggal (putra & putri): £872.560
- Runner-up: £464.000
- Total hadiah turnamen: £14,27 juta
- Peningkatan total hadiah dibanding 2025: +3,5%
Keputusan untuk memberikan hadiah yang identik bagi pemain pria dan wanita menegaskan komitmen penyelenggara terhadap kesetaraan upah, sebuah langkah yang semakin diharapkan dalam dunia olahraga global.
Kostyuk, yang kini mencatat rekor 11 kemenangan beruntun setelah menjuarai Rouen dan Madrid, mengekspresikan kebanggaannya atas pencapaian ini. “Rasanya luar biasa dapat berdiri di sini. Ini merupakan hasil konsistensi selama bertahun‑tahun, tampil setiap hari meski tantangan datang,” ujar Kostyuk dalam pidato pasca‑kemenangan, menambahkan terima kasih kepada tim, staf turnamen, dan para pendukung.
Saat selebrasi di lapangan, Kostyuk menambah warna dengan melakukan backflip, sebuah aksi yang jarang terlihat dalam perayaan tenis profesional. Setelah aksi tersebut, ia kembali ke bangku, mengeringkan air mata, dan melanjutkan ucapan terima kasih kepada semua lawan yang ia hadapi sepanjang turnamen.
Andreeva, meskipun kecewa, tetap menerima aplaus dari penonton dan pengakuan dari Kostyuk yang memuji perjuangan lawannya selama final. Kedua pemain menampilkan sportivitas tinggi meski terjebak dalam dinamika politik yang lebih luas.
Turnamen Madrid Open kali ini tidak hanya menjadi panggung prestasi atletik, melainkan juga menjadi sorotan atas isu-isu etika dalam olahraga internasional, termasuk kebijakan handshake, hubungan antarnegara, dan kesetaraan finansial. Dengan hadiah yang semakin menggiurkan serta sorotan media yang intens, turnamen ini dipastikan akan tetap menjadi magnet bagi pemain top dunia pada tahun-tahun mendatang.
Dengan gelar pertama WTA 1000 dalam kariernya, Marta Kostyuk menegaskan dirinya sebagai salah satu bintang baru tenis wanita yang patut diwaspadai. Sementara itu, keputusan menolak jabat tangan menimbulkan perdebatan tentang tradisi dan nilai sportivitas di era modern, menjanjikan diskusi lanjutan di kalangan federasi tenis internasional.






