Lensox – 04 Mei 2026 | Pertandingan antara PSMS Medan dan Persiraja Banda Aceh di Stadion H. Dimurthala, Lampineung, pada Sabtu sore, 2 Mei 2026, menyuguhkan drama yang menggabungkan ketegangan di atas lapangan dan kisah pribadi yang mengharukan. Kedua tim bersaing ketat dalam laga lanjutan Liga 2 Championship 2025-2026, berakhir dengan skor imbang 1-1. Namun, di balik hasil tersebut terdapat cerita tentang pelatih PSMS, Eko Purdjianto, yang harus mengatasi duka mendalam setelah orang tuanya meninggal dunia hanya beberapa jam sebelum kick‑off.
Jalannya Laga dan Momen Kunci
Sejak peluit pertama, kedua tim menunjukkan intensitas tinggi. PSMS Medan membuka peluang pada menit ke‑28, namun tembakan Felipe Cadenazzi masih meleset. Tekanan terus meningkat dan akhirnya pada menit ke‑40, Cadenazzi berhasil memanfaatkan umpan terobosan untuk menembakkan bola ke gawang Persiraja, memberikan keunggulan 1-0 bagi tuan rumah.
Persiraja tidak tinggal diam. Mereka menekan kembali dan menciptakan beberapa peluang, terutama melalui aksi cepat Asnawi Habib di sisi kiri. Tekanan itu membuahkan hasil pada menit ke‑90+4, ketika Asnawi menyundul bola hasil tendangan sudut menjadi gol penyelamat, mengembalikan skor menjadi 1-1 dan menegangkan atmosfer stadion hingga akhir pertandingan.
Reaksi Pelatih, Kapten, dan Pemain
Eko Purdjianto, yang baru saja menerima kabar duka tentang meninggalnya kedua orang tuanya, tetap tampil di sisi lapangan bersama tim. Dalam konferensi pers singkat setelah laga, ia menyatakan, “Kita imbang 1-1, pemain sudah memberikan yang terbaik. Yang pasti kita berbagi angka dengan Persiraja dan kita syukuri satu poin. Pertandingan cukup seru.” Meskipun mengekspresikan kekecewaan atas hasil akhir, Purdjianto menekankan profesionalisme dan komitmen pemain serta manajemen klub.
Kapten PSMS, Erwin Gutawa, menambahkan bahwa tim telah berjuang keras meski hasil belum sesuai harapan. Ia juga menjelaskan insiden kecil yang terjadi di lapangan antara pemain PSMS, Kim Jeung‑ho, dan pemain Persiraja, yang hanya berupa gesekan bahasa dan tidak berujung pada konflik serius.
- Gol PSMS: Felipe Cadenazzi (menit 40)
- Gol Persiraja: Asnawi Habib (menit 90+4)
- Poin yang diraih: PSMS 1, Persiraja 1
- Posisi akhir klasemen: Persiraja 5‑ke dengan 40 poin, PSMS 7‑ke dengan 36 poin
- Rekor pertemuan kedua tim musim ini: 2 kemenangan PSMS, 1 imbang
Secara statistik, PSMS mencatat penguasaan bola sebesar 52 % dan tembakan ke arah gawang sebanyak 8 kali, sementara Persiraja menguasai 48 % dengan 6 tembakan. Kedua tim menunjukkan disiplin defensif, dengan masing‑masing hanya menerima satu kartu kuning.
Di luar lapangan, tragedi pribadi Eko Purdjianto menambah dimensi emosional pada pertandingan. Ia mengakui rasa kehilangan yang mendalam, namun menegaskan bahwa ia tetap bertanggung jawab atas pemain dan berusaha memberikan contoh ketangguhan kepada tim. “Mudah‑mudahan ke depannya PSMS bisa lebih bagus lagi sesuai target lolos ke Liga 1 musim depan,” tegasnya.
Persiraja, yang menempati peringkat lima, kini tetap berada dalam zona aman klasemen akhir, sementara PSMS berjuang menutup musim dengan harapan memperbaiki posisi mereka di papan atas. Kedua tim akan melanjutkan sisa jadwal masing‑masing, dengan PSMS bertekad meningkatkan performa untuk mengejar tiket promosi.
Secara keseluruhan, pertandingan PSMS Medan vs Persiraja menjadi contoh bagaimana sepak bola tidak hanya soal hasil, tetapi juga tentang semangat, dedikasi, dan kemampuan mengatasi tantangan pribadi di tengah sorotan publik.
Dengan satu poin yang dibagi, PSMS tetap menjaga peluang mereka di papan klasemen, sementara Persiraja terus mengukir stabilitas. Kedua tim kini menatap pertandingan berikutnya dengan tekad untuk meningkatkan performa dan menggapai target masing‑masing, baik itu promosi ke Liga 1 maupun mempertahankan posisi kuat di Liga 2.






