Lensox – 27 April 2026 | Jeddah, Arab Saudi – Pada Sabtu 25 April 2026, stadion King Abdullah Sports City menyaksikan salah satu final paling menegangkan dalam sejarah AFC Champions League Elite. Tim tuan rumah Al‑Ahli Saudi FC berhasil menumbangkan debutan Jepang, Machida Zelvia, dengan skor tipis 1‑0 dalam perpanjangan waktu, meski harus bermain dengan hanya sepuluh pemain sejak menit ke‑68. Kemenangan ini menjadikan Al‑Ahli klub pertama dalam lebih dari dua dekade yang berhasil mempertahankan gelar juara Asia secara beruntun.
Detik‑detik Kunci Pertandingan
Babak pertama berlangsung relatif sepi, dengan kedua tim saling menguji pertahanan masing‑masing. Pada menit ke‑13, Brasil‑keturunan Galeno menembus lini belakang Machida dan melepaskan tembakan rendah yang berhasil dibentengi kiper Kosei Tani. Tiga menit sebelum jeda, bek Merih Demiral hampir membuka keunggulan Al‑Ahli ketika tendangannya diblokir tepat di atas garis gawang, lalu memantul kembali ke tiang gawang lawan.
Ketegangan meningkat pada menit ke‑68 ketika Zakaria Hawsawi, bek Al‑Ahli, melakukan head‑butt terhadap penyerang Machida, Tete Yengi. Wasit tak ragu mengeluarkan kartu merah langsung, memaksa Al‑Ahli bertahan dengan sepuluh pemain selama hampir satu jam. Machida, yang berharap memanfaatkan keunggulan numerik, langsung menekan. Namun, kiper veteran Edouard Mendy menepis tembakan jauh Hiroyuki Mae, dan kemudian menggagalkan serangan Yuki Soma.
Setelah menahan serangan lawan, Al‑Ahli kembali menyalakan harapan pada menit ke‑96. Riyad Mahrez, bintang sayap asal Aljazair yang pernah mengangkat trofi UEFA Champions League bersama Manchester City, mengirimkan umpan silang ke tiang belakang. Franck Kessie, gelandang Prancis, secara tidak sengaja menahan bola sebelum Firas Al‑Buraikan, pemain asal Saudi yang kini menjadi andalan, menegakkan kepala dan mengirim bola ke dalam gawang. Gol tersebut menjadi satu‑satunya gol dalam pertandingan dan memastikan kemenangan Al‑Ahli.
Implikasi dan Reaksi Pasca Pertandingan
Kemenangan ini bukan sekadar menambah koleksi trofi, melainkan membuka peluang besar bagi Al‑Ahli di level internasional. Klub kini otomatis lolos ke FIFA Intercontinental Cup yang akan digelar akhir tahun ini, serta memperoleh tiket ke FIFA Club World Cup 2029, edisi kedua kompetisi yang kini diperluas. Pelatih kepala Matthias Jaissle memuji mentalitas timnya, menekankan pentingnya kebersamaan dan kerja keras meski berada dalam situasi yang “hampir mustahil”.
Riyad Mahrez mengungkapkan rasa kagum terhadap rekan setimnya: “Bermain 10‑lawan‑11 hampir tidak mungkin. Saya tidak mengerti bagaimana kami menemukan kekuatan dan energi. Kami bersatu, berlari lebih banyak, dan pada akhirnya mencetak gol.” Sementara itu, kapten tim Machida Zelvia, Tete Yengi, mengakui bahwa keputusan wasit terhadap Hawsawi mengubah dinamika pertandingan, tetapi menilai timnya sudah memberikan yang terbaik dalam debut mereka di final.
- Skor akhir: Al Ahli 1 – 0 Machida Zelvia
- Gol penentu: Firas Al‑Buraikan (menit 96)
- Penonton: 58.984 di King Abdullah Sports City
- Kartu merah: Zakaria Hawsawi (menit 68)
- Pelatih Al‑Ahli: Matthias Jaissle
Dengan gelar kedua berturut‑turut, Al‑Ahli menandai era dominasi baru dalam sepakbola Asia. Prestasi ini menempatkan klub sebagai standar baru bagi tim‑tim lain yang ingin menantang hegemoni Timur Tengah. Di sisi lain, Machida Zelvia, meski gagal meraih trofi, menunjukkan bahwa klub‑klub Jepang kini mampu bersaing di panggung paling elit, menambah warna pada kompetisi yang kini lebih kompetitif.
Secara keseluruhan, final ini memperlihatkan kualitas taktik, kedisiplinan defensif, serta kemampuan mengatasi tekanan mental. Kedua tim memberikan contoh bagaimana sepakbola dapat menjadi ajang drama, keberanian, dan sportivitas pada tingkat tertinggi.






