Lensox – 20 April 2026 | Sejumlah lebih dari seratus robot humanoid bersaing dalam ajang Beijing E‑Town Half Marathon pada 19 April 2026, menandai lonjakan signifikan industri kecerdasan buatan (AI) China. Lintasan 21 kilometer dibagi menjadi jalur terpisah untuk menghindari benturan antara manusia dan mesin, sementara ribuan penonton menyaksikan kompetisi yang memadukan kecepatan, ketahanan, dan inovasi teknologi.
Tim Honor, spin‑off dari Huawei, mencatat prestasi luar biasa dengan robot pemenang yang menempuh jarak dalam waktu 50 menit 26 detik, melampaui rekor dunia manusia yang sebelumnya dipegang pelari Uganda Jacob Kiplimo. Kecepatan rata‑rata robot mencapai sekitar 25 km/jam, mengungguli pemenang manusia lebih dari 10 menit. Du Xiaodi, insinyur senior Honor, menjelaskan bahwa robot tersebut dikembangkan selama satu tahun, dilengkapi kaki sepanjang 90‑95 cm dan sistem pendingin cair yang diadaptasi dari teknologi ponsel pintar.
Berbeda dengan edisi pertama pada 2025, dimana hanya sekitar 20 tim berpartisipasi dan sebagian besar robot mengalami kegagalan, tahun ini lebih dari 100 tim meluncurkan robot mereka secara otonom. Sekitar 40‑50 persen robot berhasil menavigasi lintasan tanpa kendali jarak jauh, berkat sensor LIDAR, kamera visual, dan algoritma pembelajaran mendalam yang memungkinkan deteksi rintangan secara real‑time.
Berikut beberapa data penting dari kompetisi:
- Jumlah tim peserta: >100 (kenaikan 5‑kali lipat dibanding tahun lalu)
- Waktu pemenang robot Honor: 50:26 menit
- Kecepatan rata‑rata robot pemenang: 25 km/jam
- Waktu pemenang manusia: 39:15 menit
- Persentase robot yang beroperasi otonom: 45%
Para pengamat menilai bahwa pencapaian ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan demonstrasi aplikatif teknologi robotika. Potensi penggunaan robot humanoid meliputi tugas berbahaya seperti penanganan bencana, operasi militer, serta layanan perawatan lansia. Namun, para ahli juga menekankan bahwa kemampuan manipulasi manual dan persepsi dunia nyata masih menjadi tantangan utama sebelum adopsi massal di industri.
Mahasiswa teknik Chu Tianqi dari Beijing University of Posts and Telecommunications mengungkapkan kekagumannya, menyebut postur lari robot sebagai bukti AI yang berkembang pesat dalam waktu singkat. Sementara itu, pelajar 11‑tahun Guo Yukun terinspirasi untuk mengejar jurusan robotika setelah menyaksikan kompetisi.
Pemerintah China mendukung percepatan industri ini melalui subsidi, kebijakan fiskal, dan infrastruktur khusus. Pada 2025, investasi sektor robotika dan embodied AI mencapai 73,5 miliar yuan (sekitar 10,8 miliar dolar AS). Acara televisi bergengsi seperti Gala Festival Musim Semi CCTV juga menampilkan pertunjukan robot humanoid Unitree yang memamerkan kemampuan bela diri dengan pedang, tongkat, dan nunchaku.
Walaupun robot humanoid masih berada pada fase uji coba, kompetisi ini memberikan data berharga bagi pengembang dalam mengoptimalkan baterai, bahan struktural, dan algoritma kontrol. Sejumlah perusahaan seperti UBTech menargetkan produksi massal 10.000 unit robot humanoid pada tahun 2026, dengan variasi model untuk lingkungan komersial dan industri.
Secara keseluruhan, keberhasilan robot humanoid di half marathon Beijing menegaskan posisi China sebagai pemimpin global dalam robotika. Kecepatan, ketahanan, dan autonomi yang ditunjukkan menjadi indikator kuat bahwa era AI fisik kini semakin mendekati realitas sehari‑hari.






