Beranda / News / Buaya Misterius Serang Warga di Tinambung, Ditemukan Mati di Sungai Mandar – Diduga Diracun!

Buaya Misterius Serang Warga di Tinambung, Ditemukan Mati di Sungai Mandar – Diduga Diracun!

Buaya Misterius Serang Warga di Tinambung, Ditemukan Mati di Sungai Mandar – Diduga Diracun!

Lensox – 06 Mei 2026 | Warga Desa Tinambung, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dikejutkan pada Senin (10/5/2026) oleh serangan seekor buaya air tawar yang tiba‑tiba muncul di tepi Sungai Mandar. Korban, seorang pria berusia 38 tahun, langsung mengalami luka serius pada kakinya sebelum buaya tersebut melarikan diri kembali ke sungai. Namun yang membuat kasus ini semakin misterius adalah penemuan mayat buaya tersebut tiga hari kemudian di sebuah rawa kecil dekat bendungan, dengan tanda‑tanda keracunan yang jelas.

Rangkaian Kejadian dan Penanganan Awal

Pukul 07.15 WIB, saksi mata melaporkan bahwa korban sedang menyiapkan jala ikan di pinggir sungai ketika buaya muncul dan menyerang. Warga sekitar segera menghubungi petugas Satpol PP dan Tim Penanggulangan Bencana Daerah (TPBD). Tim medis setempat melakukan pertolongan pertama, namun luka pada korban tergolong dalam kategori kritis sehingga harus dilarikan ke RSUD Polewali Mandar untuk perawatan intensif.

Baca juga:

Setelah kejadian, pihak berwenang melakukan pencarian buaya yang melarikan diri. Dua hari kemudian, pada Rabu (12/5/2026), seorang nelayan menemukan tubuh buaya berukuran sekitar tiga meter di bagian rawa Sungai Mandar. Pemeriksaan awal oleh tim dokter hewan Polman menunjukkan adanya perubahan warna kulit, pembengkakan organ internal, dan bau khas racun organik yang biasanya tidak ditemui pada buaya liar.

Diduga Diracun: Analisis Laboratorium dan Spekulasi

Laboratorium Kesehatan Hewan Kabupaten Polewali Mandar menerima sampel jaringan buaya pada Kamis (13/5/2026). Hasil sementara mengindikasikan adanya zat racun organofosfat, sejenis pestisida yang umum dipakai dalam pertanian lokal. Pihak kepolisian menyatakan bahwa kasus ini bukan sekadar serangan liar, melainkan kemungkinan tindakan kriminal yang melibatkan racun untuk menurunkan kewaspadaan satwa.

Berbagai pihak memberikan pendapatnya. Ahli biologi konservasi, Dr. Rizki Hartono, menyebutkan bahwa “penggunaan racun di daerah pertanian memang dapat masuk ke aliran sungai, namun konsentrasi yang cukup tinggi untuk mematikan buaya biasanya memerlukan dosis besar.” Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Bupati Polman, H. Ahmad Basri, menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan memperketat pengawasan penggunaan pestisida di wilayah tersebut.

  • Waktu kejadian: 07.15 WIB, 10 Mei 2026
  • Lokasi: Sungai Mandar, Desa Tinambung, Kecamatan Tapango
  • Korban: Pria, 38 tahun, luka kritis
  • Buaya ditemukan mati: 12 Mei 2026, rawa dekat bendungan
  • Hasil laboratorium: Terdeteksi racun organofosfat

Selain aspek kriminal, ada pula dugaan bahwa perubahan habitat akibat pembangunan infrastruktur, seperti amblasnya Jembatan Pussepang di Polman pada awal Mei, memaksa buaya mencari tempat baru untuk bersembunyi dan berburu. Kondisi air yang meluap akibat banjir juga meningkatkan interaksi antara manusia dan satwa liar, meningkatkan potensi konflik.

Baca juga:

Respons Pemerintah dan Langkah Ke Depan

Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar segera membentuk Satgas Penanggulangan Insiden Satwa Liar (SPISL) yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Satgas ini ditugaskan untuk:

  1. Mengamankan area sekitar Sungai Mandar dan melakukan survei populasi buaya.
  2. Mengidentifikasi sumber racun dan menindak pelaku penyalahgunaan pestisida.
  3. Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghindari serangan satwa liar.
  4. Meninjau kembali kebijakan penggunaan pestisida di wilayah pertanian.

Selain itu, pemerintah setempat berjanji akan memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak akibat banjir, termasuk Jembatan Pussepang yang amblas pada 4 Mei 2026, guna mengurangi tekanan pada lingkungan alami yang menjadi habitat satwa liar.

Komunitas lokal pun menunjukkan solidaritas dengan menggalang dana untuk korban dan keluarganya. Penggalangan dana online berhasil mengumpulkan Rp 150 juta dalam dua hari, yang akan dialokasikan untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi korban.

Kasus ini menjadi peringatan penting bagi seluruh daerah pesisir dan sungai di Sulawesi Barat. Keterkaitan antara praktik pertanian, pengelolaan limbah, serta konflik manusia‑satwa menuntut pendekatan terpadu yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Baca juga:

Dengan investigasi yang terus berjalan, diharapkan penyebab pasti keracunan buaya dapat terungkap, serta langkah preventif yang lebih kuat dapat diterapkan untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Jika hasil penyelidikan mengonfirmasi adanya tindakan kriminal, pihak berwenang berjanji akan menindak tegas pelaku serta memperketat regulasi penggunaan pestisida di daerah pertanian Polman.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *