Lensox – 25 April 2026 | Rupiah Indonesia terus berada dalam zona sempit antara Rp17.280 dan Rp17.340 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, 24 April 2026. Meskipun terdapat sedikit penguatan pada sesi pagi, tekanan dari sentimen risiko global dan kebijakan moneter domestik membuat nilai tukar tetap berfluktuasi. Pengamat menilai bahwa pergerakan tipis ini mencerminkan keseimbangan antara faktor eksternal seperti ketegangan Timur Tengah dan respons kebijakan Bank Indonesia (BI) yang semakin agresif.
Pergerakan Kurs Hari Ini dan Pengaruh Geopolitik
Pagi hari Jumat, nilai tukar rupiah tercatat Rp17.280 per USD, naik 6 poin atau 0,03% dari penutupan sebelumnya. Namun, pada sesi intraday, rupiah melemah kembali ke kisaran Rp17.300 sebelum stabil di level akhir. Penguatan tipis ini didorong oleh data pasar spot yang menunjukkan kurs tengah USD/IDR di Rp17.308, sementara kurs jual dan beli berada pada Rp17.395 serta Rp17.221 masing‑masing.
Faktor eksternal utama adalah ketidakpastian terkait proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan bahwa Gedung Putih masih menunggu respons Tehran sebelum melanjutkan negosiasi menambah sentimen risk‑off di pasar global. Indeks dolar AS tetap kuat di level 98,65, menahan penguatan mata uang berkembang termasuk rupiah.
- Kurs tengah BI: Rp17.308 per USD
- Kurs jual: Rp17.395 per USD
- Kurs beli: Rp17.221 per USD
- Rentang intraday: Rp17.280–Rp17.340 per USD
Respon Kebijakan Dalam Negeri: Intervensi BI & Dukungan APBN
Bank Indonesia mengakui tekanan nilai tukar dipicu oleh dinamika geopolitik dan volatilitas pasar komoditas energi. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan bahwa intervensi pasar akan terus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas. Sementara itu, kebijakan moneter tetap pro‑market, dengan penyesuaian suku bunga yang berupaya menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan.
Di sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menunjukkan kesiapan menghadapi lonjakan harga minyak mentah yang berada di atas USD100 per barel. Analis Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa APBN dapat menahan kenaikan BBM bersubsidi tanpa menguras Saldo Anggaran Lebih (SAL), memberikan dukungan tambahan bagi nilai rupiah.
Berbagai bank komersial memperlihatkan variasi kurs e‑rate. BCA menawarkan kurs beli Rp17.250 dan jual Rp17.330, sementara Mandiri mencatat beli antara Rp16.950‑Rp17.056 dan jual Rp17.228‑Rp17.250. Kondisi ini memberi ruang bagi pelaku pasar untuk memilih layanan yang paling menguntungkan.
Secara keseluruhan, pasar domestik terus memantau intervensi BI sambil menilai dampak kebijakan fiskal dan geopolitik. Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpotensi menguat kembali ke level Rp17.200, namun ketidakpastian politik di Timur Tengah dapat menyebabkan kembali ke zona tekanan.
Pengamat menyarankan pelaku pasar untuk terus mengikuti perkembangan indeks dolar, kebijakan BI, serta langkah diplomatik AS‑Iran yang dapat menjadi pemicu utama pergerakan kurs ke depan.






