Lensox – 21 April 2026 | Serangkaian duel intens di babak pertama playoff NBA berakhir dengan kejutan besar ketika Minnesota Timberwolves menundukkan Denver Nuggets dalam pertandingan ke-2 yang menegangkan. Dengan kemenangan 119-114 di Ball Arena, seri kini seimbang 1-1, menandai pertarungan yang semakin ketat antara dua tim yang masing-masing menampilkan bintang dan strategi unik.
Pertarungan Balik di Target Center
Setelah mengantongi kemenangan 116-105 di laga pertama, Nuggets masuk dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, Timberwolves memanfaatkan keunggulan lapangan tandang dengan menyesuaikan taktik ofensif dan pertahanan. Anthony Edwards tampil gemilang, mencetak 30 poin dan 10 rebound, sementara Julius Randle menambah 24 poin, termasuk 18 poin pada babak pertama. Kedua pemain ini menjadi motor penggerak utama serangan Minnesota, yang berhasil menutup celah pertahanan Nuggets.
Rudy Gobert, yang sempat harus keluar karena cedera kaki, memberikan kontribusi signifikan pada momen-momen krusial, terutama dalam mengamankan rebound kedua tim. Pada kuarter kedua, Timberwolves berhasil membalikkan keadaan dengan mengendalikan papan kedua, mencatat keunggulan 20-3 dalam second‑chance points, yang menjadi faktor penentu dalam kemenangan tipis ini.
- Skor akhir: Timberwolves 119, Nuggets 114
- Anthony Edwards: 30 poin, 10 rebound
- Julius Randle: 24 poin (18 di babak pertama)
- Nikola Jokić: 24 poin, 6 rebound (hanya 6 poin di babak pertama)
- Jamal Murray: 30 poin, termasuk tembakan 51 kaki pada akhir kuarter pertama
Pertandingan berlangsung sangat seimbang; tidak ada tim yang memimpin lebih dari enam poin setelah kuarter pertama. Perubahan kepemimpinan terjadi sebanyak 15 kali, dengan tujuh kali skor seri. Kedua tim juga bersaing ketat dalam persentase tembakan, free‑throw, dan turnover, menunjukkan kualitas yang hampir setara di lapangan.
Kontroversi dan Strategi Pelatih
Di luar statistik, ketegangan muncul dari komentar melontarkan provokasi antara pelatih. Chris Finch, pelatih Timberwolves, menyoroti apa yang ia sebut “head‑scratcher” terkait 16 free‑throw attempts Jamal Murray di Game 1, menuduh keputusan wasit yang tidak adil. David Adelman, pelatih Nuggets, membalas dengan menegaskan bahwa Murray bermain keras meski mendapat banyak kontak fisik.
Finch melanjutkan dengan sindiran tentang budaya “flopping” yang kini merajalela di NBA. Ia menyatakan, “Mungkin pemain kami harus mulai flopping juga,” sambil menegaskan bahwa pemain bintangnya seperti Edwards dan Julius Randle tidak terlibat dalam taktik tersebut. Pernyataan ini menambah bumbu psikologis menjelang Game 3, yang akan digelar di Target Center, Minneapolis.
Strategi defensif juga menjadi sorotan. Nuggets mengandalkan kehadiran Nikola Jokić di tengah, namun pada menit-menit non‑Jokić, tim kesulitan menjaga pertahanan interior, memberi peluang bagi Timberwolves untuk menguasai papan kedua. Sebaliknya, Timberwolves harus mengatasi kekosongan di tengah ketika Gobert cedera, yang memaksa mereka beralih ke taktik “small ball” dan menekan pertahanan Nuggets di area paint.
Secara keseluruhan, pertandingan ini tidak hanya menampilkan aksi di lapangan, tetapi juga perang mental di antara pelatih dan pemain. Kedua tim tampak siap untuk memperpanjang drama ini, dengan harapan mengeksekusi strategi yang lebih tepat di pertandingan berikutnya.
Kemenangan dramatis Timberwolves di Game 2 mengembalikan harapan bagi para penggemar Minnesota, sekaligus menambah beban pada Nuggets yang harus menyesuaikan diri dengan tekanan tambahan. Dengan seri kini seimbang, pertarungan “Timberwolves vs Nuggets” menjanjikan aksi seru di sisa seri playoff pertama.









