Lensox – 22 April 2026 | Persiapan Persib Bandung menjelang pekan-penutup BRI Super League 2025/2026 semakin menegangkan setelah tim asuhan Bojan Hodak terpaksa menelan hasil imbang 2-2 melawan Dewa United di Banten International Stadium. Meskipun berhasil bangkit dari ketertinggalan dua gol, sang pelatih menegaskan bahwa kemenangan belum dapat dirayakan dan fokus utama harus tetap pada lima pertandingan terakhir. Ia memperingatkan agar pemain tidak panik dan menghindari perhitungan gelar terlalu dini, sebab nasib juara baru akan terkuak pada pekan terakhir kompetisi.
Tekanan di Puncak Klasemen Menjelang Pekan Terakhir
Setelah laga pekan ke-28, Persib berada di puncak klasemen dengan 65 poin, unggul dua angka dari Borneo FC yang menempati posisi kedua. Namun, keunggulan tipis tersebut membuat setiap poin menjadi krusial. Bojan Hodak menekankan bahwa enam laga tersisa, termasuk pertemuan melawan Arema FC pada 24 April, akan menentukan apakah Maung Bandung dapat mempertahankan gelar back‑to‑back atau harus menyerah pada ambisi rival.
Statistik sementara menunjukkan bahwa Persib belum mampu mengamankan clean sheet dalam dua laga terakhir, kebobolan total empat gol (dua melawan Bali United dan dua melawan Dewa United). Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi lini pertahanan yang biasanya dikenal solid.
Analisis Teknis dan Langkah Perbaikan
Bojan Hodak mengidentifikasi dua faktor utama yang menyebabkan kebobolan awal melawan Dewa United: kesalahan kolektif akibat menghentikan permainan karena mengira bola keluar, serta kesalahan individu yang mengakibatkan gol kedua. Ia menambahkan bahwa situasi bermain dengan sepuluh pemain pada laga melawan Bali United memperparah kerentanan pertahanan.
- Poin saat ini: 65
- Selisih poin dengan Borneo FC: 2
- Laga tersisa: 6
- Target poin tambahan: minimal 12 untuk mengamankan posisi puncak
- Kebobolan 4 gol dalam 2 laga terakhir menjadi fokus perbaikan
Untuk mengatasi masalah tersebut, Bojan berencana memperkuat koordinasi lini belakang, meningkatkan konsentrasi pada fase transisi, dan mengoptimalkan peran playmaker Thom Haye dalam mengatur tempo serangan. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga disiplin taktis, terutama dalam menghindari tindakan berhenti bermain yang dapat dimanfaatkan lawan.
Selain masalah pertahanan, catatan pribadi Bojan Hodak semakin menonjol. Dengan 200 poin yang terkumpul sejak memimpin Persib, ia menyamai rekor legendaris Indra M. Tohir. Namun, Hodak menyatakan ketidakpuasannya terhadap hasil imbang melawan Dewa United, menilai tim seharusnya mampu mencetak lebih banyak gol dan mengendalikan tempo sejak menit awal.
Ke depan, laga melawan Arema FC menjadi ujian nyata. Bojan berharap tim dapat memanfaatkan momentum positif, mengeksekusi skema taktik yang telah dipersiapkan, dan menutup musim dengan konsistensi yang diperlukan untuk mengamankan gelar ketiga musim beruntun.
Secara keseluruhan, Bojan Hodak menegaskan bahwa mentalitas tidak panik, fokus pada tugas masing‑masing, dan konsistensi dalam enam laga terakhir adalah kunci utama. Dengan tekanan yang semakin intens, hanya tim yang mampu mengelola faktor psikologis dan taktis yang akan menatap trofi juara pada pekan penutup.









