Lensox – 29 April 2026 | Pasar logam mulia tengah berada di persimpangan penting. Seiring negara‑negara meningkatkan cadangan emas untuk melindungi nilai aset di tengah ketidakpastian geopolitik, para analis memperkirakan harga emas dapat melonjak hingga 80 persen dalam lima tahun ke depan. Fenomena ini dipicu oleh tren de‑dolarisasi yang mengalihkan alokasi devisa dari dolar AS ke logam mulia, serta inisiatif digitalisasi emas yang digalakkan oleh organisasi internasional.
Lonjakan Cadangan Emas di Tengah De‑dolarisasi
Bank investasi asal Jerman, Deutsche Bank, mengungkapkan bahwa sejak krisis keuangan 2008, bank‑bank sentral telah menambah lebih dari 225 juta ons emas ke dalam portofolio mereka. Perubahan kebijakan ini tidak hanya terlihat di negara‑negara besar seperti China, Rusia, India, dan Turki, tetapi juga meluas ke ekonomi menengah‑besar seperti Kazakhstan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Uni Emirat Arab.
- China – penambahan signifikan sejak 2020
- Rusia – fokus pada diversifikasi dari sanksi Barat
- India – menguatkan cadangan untuk stabilitas moneter
- Kazakhstan – strategi anti‑inflasi
- Arab Saudi – mengurangi ketergantungan pada dolar
- Qatar – memperluas aset safe‑haven
Jika tren ini berlanjut, proporsi emas dalam cadangan bank sentral global berpotensi naik dari sekitar 30 persen menjadi 40 persen. Simulasi Deutsche Bank memperkirakan harga emas dapat mencapai US$8.000 per ons (sekitar Rp 138,5 juta) dalam jangka waktu lima tahun, hampir dua kali lipat dari level US$4.570 saat ini.
Dampak pada Harga Emas dan Pasar Perhiasan Indonesia
Di pasar domestik, pergerakan harga emas perhiasan tetap menjadi indikator penting bagi konsumen dan investor. Pada 29 April 2026, harga emas Antam tercatat stabil di Rp560.000 per gram, sementara harga emas dunia berada di US$4.570 per ons atau sekitar Rp79,14 juta per ons. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kadar kemurnian, biaya produksi, serta sentimen pasar global yang dipicu oleh konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Para pedagang perhiasan melaporkan adanya penurunan harga di beberapa toko, namun tetap mengamati lonjakan permintaan dari kalangan yang ingin mengamankan nilai aset. Di sisi lain, bank‑bank sentral yang menambah cadangan emas dapat menambah tekanan beli pada pasar spot, yang selanjutnya dapat mendorong harga batangan naik dan menginduksi kenaikan harga perhiasan.
- Harga emas per gram Antam: Rp560.000
- Harga emas dunia per ons: US$4.570 (≈ Rp79,14 juta)
- Prediksi harga dalam 5 tahun: US$8.000 (≈ Rp138,5 juta)
World Gold Council (WGC) juga meluncurkan inisiatif pengembangan emas digital, yang berpotensi membuka akses investasi emas secara lebih luas melalui platform berbasis blockchain. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan biaya transaksi dan meningkatkan likuiditas, sekaligus memberi peluang bagi investor ritel di Indonesia untuk berpartisipasi dalam pasar emas global tanpa harus menyimpan fisik.
Secara keseluruhan, peningkatan cadangan emas global dan inovasi digital menandai era baru bagi pasar logam mulia. Investor dan konsumen di Indonesia perlu memantau kebijakan bank sentral, dinamika harga internasional, serta perkembangan teknologi digital untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola portofolio mereka.






