Lensox – 24 April 2026 | Kejuaraan sepakbola Inggris kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian peristiwa mengejutkan mengguncang hierarki liga. Leicester City, mantan juara Premier League, terjerumus ke Liga 1 hanya sepuluh tahun setelah mengukir kemenangan ajaib 2016. Di sisi lain, negosiasi New Deal antara Premier League dan English Football League (EFL) menambah ketidakpastian finansial bagi klub-klub menengah yang bersaing di English Championship.
Leicester City Terjun ke Liga 1
Pertandingan melawan Hull City pada 30 April 2026 menjadi titik balik yang menyedihkan bagi The Foxes. Skor 2-2, dengan gol penyama kedudukan dari Oli McBurnie, menutup harapan klub untuk bertahan di Championship. Dengan hanya dua laga tersisa, Leicester berada tujuh poin di bawah zona aman. Pelatih Gary Rowett mengakui bahwa klub harus belajar dari “bagian paling mengerikan dalam perjalanan sepakbola”.
Penurunan performa tidak lepas dari beberapa faktor: pemotongan poin enam poin karena pelanggaran aturan keuangan, pergantian manajer yang cepat, serta kehilangan inti skuad seperti Jamie Vardy. Sejak promosi kembali ke Premier League pada 2023, Leicester telah mengalami tiga relegasi dalam empat musim, menandakan krisis struktural yang dalam.
New Deal dan Dampaknya pada English Championship
Sementara Leicester bergulat dengan nasibnya, papan atas sepakbola Inggris sedang menegosiasikan “New Deal” yang pertama kali dibahas pada 2019. Independent Football Regulator (IFR) menyoroti “jam berdetak” yang mengingatkan bahwa kesepakatan lama akan habis pada 2027, memaksa Premier League dan EFL untuk menemukan solusi baru atau menerima paksa.
New Deal berpotensi mengubah distribusi pendapatan televisi yang selama ini sangat menguntungkan Premier League. Saat ini, klub-klub Championship menerima hanya sebagian kecil dari total pendapatan, yang semakin terasa berat di tengah pemotongan poin dan pembatasan belanja. Jika kesepakatan baru meningkatkan porsi bagi EFL, klub seperti Leicester dapat menemukan ruang bernapas finansial yang selama ini terjepit.
- Premier League menghasilkan sekitar £900 juta per musim dari hak siar.
- Sejak 1992, pembagian pendapatan antara liga atas dan bawah menurun drastis.
- New Deal diharapkan menambah alokasi dana bagi EFL hingga 15% dari total hak siar.
Namun, skeptisisme tetap ada. Banyak eksekutif klub menilai bahwa peningkatan alokasi belum cukup untuk menutup kesenjangan biaya operasional yang terus melambung. Mereka menuntut transparansi lebih dalam pembagian dana, serta mekanisme redistribusi yang mengurangi ketergantungan pada poin penalti.
Situasi ini menempatkan klub Championship di persimpangan jalan: antara mempertahankan ambisi promosi dan mengelola risiko keuangan yang semakin ketat. Bagi Leicester, keberhasilan kembali ke Premier League tidak hanya soal taktik lapangan, melainkan juga kemampuan mengatur neraca keuangan dalam kerangka New Deal yang masih belum final.
Pengamat sepakbola menilai bahwa krisis Leicester dapat menjadi pelajaran bagi klub lain. “Jika sebuah klub yang pernah menaklukkan 5.000-1 odds tidak dapat menstabilkan diri, maka semua tim di Championship harus menyiapkan strategi kontinjensi,” ujar seorang analis EFL.
Dengan dua pertandingan tersisa, harapan Leicester untuk menghindari relegasi semakin tipis. Namun, proses restrukturisasi klub dan pembahasan New Deal tetap menjadi topik utama di antara penggemar dan pemangku kepentingan sepakbola Inggris, menandai era baru yang penuh tantangan bagi English Championship.
Kesimpulannya, kejatuhan Leicester City ke Liga 1 menegaskan betapa rapuhnya stabilitas klub di tengah tekanan kompetitif dan finansial. Sementara itu, negosiasi New Deal berpotensi meredefinisi alokasi pendapatan, menawarkan harapan namun juga ketidakpastian bagi klub Championship yang berjuang untuk tetap kompetitif.






