Lensox – 28 April 2026 | CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengungkapkan keprihatinan mendalam setelah mengamati pabrik pemasok otomotif di Shanghai, dimana produsen China mampu meluncurkan model listrik baru dalam hitungan bulan. Kunjungan tersebut menegaskan bahwa kecepatan inovasi dan efisiensi biaya di China kini menjadi tantangan eksistensial bagi produsen Jepang yang masih mengandalkan siklus pengembangan tradisional.
Selama dua tahun terakhir, pasar otomotif global telah bertransformasi drastis. Penurunan penjualan Honda di China dari puncak 1,62 juta unit pada 2020 menjadi hanya 640 ribu unit pada 2025 mencerminkan tekanan kompetitif yang intens. Di samping itu, pembatalan proyek mobil listrik utama dan kerugian diproyeksikan mencapai US$15,8 miliar menambah beban keuangan perusahaan.
Tekanan Pasar Otomotif Global
Produsen China tidak hanya mengandalkan volume produksi yang tinggi, melainkan juga memotong waktu pengembangan produk secara signifikan. Sebuah model baru dapat dirancang, diuji, dan diproduksi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, sementara perusahaan Jepang biasanya membutuhkan empat tahun atau lebih. Keunggulan ini didukung oleh rantai pasok lokal yang terintegrasi, kemampuan manufaktur otomatisasi tinggi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung investasi R&D serta subsidi kendaraan listrik.
- Kecepatan pengembangan model: China ≤2 tahun, Jepang ≥4 tahun.
- Biaya produksi per unit di China lebih rendah hingga 20% dibanding Jepang.
- Subsidi pemerintah China untuk EV mencapai US$4.000 per unit.
- Penurunan penjualan Honda di China: -60% dari 2020 ke 2025.
Fenomena serupa juga dirasakan oleh produsen lain. CEO Ford, Jim Farley, menyatakan bahwa pabrik di China berpotensi melayani seluruh pasar Amerika Utara, mengancam keberlangsungan perusahaan otomotif Barat. Mantan CEO Toyota, Koji Sato, menekankan bahwa tanpa perubahan struktural, keberlangsungan rantai pasok akan terancam.
Respon Honda dan Langkah Strategis
Setelah kembali dari China, Toshihiro Mibe menegaskan bahwa Honda harus bergerak lebih cepat. Ia memerintahkan pembentukan unit riset dan pengembangan independen yang akan memusatkan ribuan insinyur pada proyek EV. Selain itu, Honda memperkuat kolaborasi dengan mitra teknologi, meski dua proyek mobil listrik bersama Sony, Afeela SUV dan Sedan, dibatalkan karena ketidaksesuaian pasar.
Strategi baru mencakup tiga pilar utama: percepatan inovasi produk, optimalisasi biaya produksi, dan penetrasi pasar melalui model yang lebih terjangkau. Honda berencana mengalihkan sebagian besar produksi ke fasilitas yang lebih fleksibel, mengadopsi platform modular, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal di China untuk menurunkan biaya logistik.
Meski menghadapi tantangan berat, Honda tidak menyerah. Perusahaan menyiapkan program pelatihan intensif bagi pemasok lokal, mengintegrasikan sistem digital untuk mempercepat alur kerja, serta memperluas jaringan charger EV di kota-kota tier‑2 dan tier‑3 di China. Upaya ini diharapkan dapat menutup kesenjangan dengan produsen domestik dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, pernyataan Toshihiro Mibe mencerminkan kesadaran kritis akan dinamika pasar otomotif yang kini dipimpin oleh kecepatan inovasi China. Keberhasilan Honda dalam menanggapi tekanan ini akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mereformasi proses internal, berkolaborasi dengan ekosistem teknologi, dan menyesuaikan strategi penjualan di pasar yang berubah cepat.






